Tak Mudah Menjadi Seorang Ahok - JURAGANTOTO

Breaking

JURAGANTOTO

Prediksi Togel, Paito dan Berita Terbaru Indonesia


July 12, 2018

Tak Mudah Menjadi Seorang Ahok


Tak mudah memang menjadi orang seperti Ahok. Itu kesimpulan saya setelah merenungkan kembali perjalanan karirnya sebagai pejabat publik. Ia adalah orang yang bersih. Dan bukan saja menjaga dirinya untuk tetap bersih, ia pun mau memperjuangkan birokrasi yang bersih pula; dengan meresikokan nyawanya.

Sudah sejak dahulu, dan telah menjadi rahasia umum, bahwa kota Jakarta memang adalah "ladang rupiah". Banyak kepentingan bermain di sini. Jakarta adalah lahan yang amat basah, bukan saja karena birokrasinya mengelola APBD senilai 70 triliun lebih, tetapi juga sektor swasta yang putaran uangnya sudah tak terhitung lagi. Semua hal bisa "di-uang-kan" di Jakarta, mulai dari yang halal sampai yang “haram”. Mulai dari petak parkir dan lapak jualan kaki lima, hingga permainan deal-deal konglomerasi ada di kota ini.

Tidak banyak orang yang berani membenahi ekosistem yang sudah ada. Terlalu berbahaya bagi jiwa. Sebab dalam hukum rimba, uang masih bisa nyaris membeli segalanya; termasuk nyawa Anda.

Karena itu membenahi sarang-sarang gelap yang ada seringkali dianggap tidak berguna. Memimpin DKI hanya lima tahunan sekali, lebih baik cari aman ketimbang sisa hidup terus merasa terancam. Belum lagi urusan publik DKI, mulai dari banjir dan kemacetan yang sudah jadi langganan, hingga urusan birokrasi lainnya. Itu saja sudah cukup untuk mengernyitkan dahi.

Tetapi tidak dengan Ahok. Ia memilih untuk membereskan semua sekalipun ia tahu resikonya. Ia memahami pokok masalah, bahwa problematika sosial seperti banjir, kemacetan, kemiskinan, ketimpangan pendidikan dan sarana kesehatan, serta masalah lainnya berasal dari problema korup. Dana pemasukan yang diperlukan DKI untuk membenahi semua permasalahan ini terus bocor di mana-mana.

Dana anggaran selalu terserap habis, tetapi hasil eksekusi anggarannya tak nampak sama sekali. Semua orang sudah paham sebenarnya, itu ulah oknum-oknum dewan dan kepala satuan dinas yang memang berkewenangan merancang anggaran. Tapi, siapa yang berani menghadapi orang-orang semacam ini?

Maka itulah, Ahok memang orang yang berbeda. Bukan saja ia tahu masalah, namun juga ia mau pasang badan untuk berbenah. Ia menjadikan dirinya sebagai bemper. Agar pejabat publik yang nakal tidak bisa berkutik, sekaligus memberikan ruang yang seluas-luasnya kepada mereka yang sungguh-sungguh mau bekerja.

Menghadapi pekatnya budaya korup dan ketertiban yang carut-marut di ibukota, Jakarta memang memerlukan orang yang bertabiat keras. Lihat saja bagaimana ketika Jakarta ditata dengan begitu rapih oleh Ali Sadikin. Ia orang yang sangat keras, tegas dan tak tedeng aling-aling. Tabiat Ahok yang keras dan apa adanya memang diperlukan untuk membenahi Jakarta.

Tetapi orang yang seperti ini mana bisa disukai oleh banyak pemilik kepentingan di kota “sebasah” Jakarta? Umurnya memang tidak akan pernah lama. Apalagi mereka mendapatkan jalan masuk untuk mengoyak Ahok. Akhirnya, ia dipersalahkan karena momentum dari para pesakitan.

Namanya dibusukan dengan vonis dua tahun penjara atas tuduhan penistaan agama; dan itu semua belum selesai. Mahligai rumah tangganya harus pecah. Ia ditinggal pergi oleh istrinya yang selingkuh dengan pria lain. Entah sampai sejauh mana hatinya telah remuk, saya tidak dapat menebak. Diadili secara tidak adil, dan lalu ditinggal pergi oleh orang yang pernah berjanji untuk sehidup-semati; baik saat senang maupun susah. Sungguh saya tidak dapat mengerti, mengapa kesulitan terus datang kepada mereka yang justru mau berjuang bagi kemaslahatan banyak orang?

Akhir kata dari saya bagi para pembaca. Di akhir dari perenungan saya, saya hanya dapat menarik sebuah kesimpulan. Tak mudah memang menjadi seorang Ahok. Mau memperjuangkan kebaikan bagi banyak orang, tetapi malah dilawan dan dinistakan. Tetapi, apakah hatinya berubah kecewa dan tenggelam dalam amarah? Ternyata tidak. Ia justru berjuang, bangkit dan tetap berdiri.

“Kita harus terus berlari”, begitu katanya. Saya heran, apa yang membuat dirinya bisa setegar itu? Ia sempat nyaris seperti tak bermasa depan. “Pada kita memang tak pernah ada masa depan, sebab masa depan kita ada di dalam tangan Tuhan”, jawabnya. Ya Koh, saya percaya pimpinan Tuhan tak pernah bersalah buat Koh Ahok. Bahwa pada akhirnya memang Dialah yang memegang sejarah dan hidup kita semua. Amin.

Menjelang bulan pembebasan bersyarat Bapak, saya haturkan tulisan ini. Kiranya Ia, yang adalah Pemilik jagat raya, menguatkan hati dan langkah Bapak sekali lagi.

sumber berita : seword.com

Post Top Ad